Praktek Dokter Derrick – Bag 2

March 6th, 2006 by sambilngupi

MANA WIBI? Tanyaku tiba-tiba
menyadari bahwa Bana yang sedang praktek.

 

Lagi di Maluku, teriak Bana tiba-tiba dari ruangan racik obat.

Maluku? tanyaku. Bukannya
terakhir dia kirim surat alamatnya di Nias
?

Tahulah Wibi kaya apa, jawab Nyak sambil menyeruput teh kentalnya.

Ada apa di Maluku?

Baru dua bulan, katanya dia suka di sana dan akan jadi tempat
terakhirnya
, jawab Hartono sambil memberikan bentuk bibir yang mengejek.

Kami semua tahu kalau Wibi dalam
surat-suratnya selalu bilang kalau tempat yang sedang dia datangi adalah tempat
terakhirnya.

Maluku? Kenapa Maluku? Katanya terakhir dia akan pindah ke Lombok.
Sempat?

Nggak, sekarang Babe baru menjawab sejak tadi hanya mendengarkan
dan memainkan kumisnya yang ujung-ujungnya masuk ke dalam mulutnya. Kenapa tidak?

Orang-orang sana suka kepadanya. Mereka pikir karena dia putih, dia orang Singgapur yang bisa
berbahasa Indonesia
. Secara dia orang medok gituloh, kata Ipah menimpali sambil
tertawa.

Ente tahu juga ya dia sempat di Nias? tanya si Nyak.

Saya mendapatkan suratnya dua minggu yang lalu, sepertinya surat itu sebulan terlambat saya terima. Saya
sedang keluar masuk hutan Irian untuk membuka jalan baru
.

Kenapa Irian sih Bang?, tanya Ipah.

Kenapa tidak? tanya Babe lagi sambil beranjak mengambil roti di
atas kulkas tanggung di dekatku.

Aku terdiam. Iya, kenapa tidak?

 

Aku membayangkan bahwa Wibi
sedang bepergian ke seluruh pelosok Indonesia mempraktekan keahliannya sebagai dokter. Seperti aku juga. Menyenangi tempat
yang relatif susah untuk hal fasilitas. Keinginan untuk mencari sesuatu yang
baru dan terutama keras adalah kesukaan kami berdua sejak dulu. Tapi tak
kunyana Wibi masih melakukannya.

 

Mau jadi apa loe besok?, tanyaku sewaktu menunggu bis sepulang
sekolah.

Dokter, jawab Wibi.

Hah? Yakin loe?

Ya iyalah! Gue obses ama
membantu orang. Satu-satunya ya jadi dokter. Semua orang butuh dokter.
Membantunya jelas, gitu. Ga perlu dibayar juga ga papa. Yang penting gua ada
kalo mereka butuh.

 

Kami berdua terdiam sambil
melihat angin.

Satu-satu asap nikotin kami
hembuskan.

 

Kalo eloe?, tanyanya kembali.

Gelap, jawabku. Gua pengen
kerja sambil main
.

Main?

Iye, main. Sambil lihat-lihat kekayaan Indonesia. Bayangin aje jek, Indonesia segini
gedenya, gua cuman tahu Jakarta
 doank!

Iye, emang tuh. Loe emang malu-maluin.

 

Kami berdua tertawa.

 

Di antara kami berdua, kami tahu
kalau Wibi adalah yang dituakan. Dewasa. Pemberi nasihat, pemberi semangat. Dan
aku? Aku adalah perusak, perusuh, kekanak-kanakan, pokoknya semua dari
kebalikannya Wibi. Tapi mungkin hal yang berbeda itulah bisa saling mengisi.
Aku membutuhkannya untuk mendewasakan dan meluruskan jalanku, dan nampaknya dia
membutuhkanku untuk membangunkannya dari kekerasan hatinya.

 

Bertahun-tahun Wibi memberikanku
semangat untuk hidup, sehingga aku mulai mengerti arti diri. Dalam perjalanan
waktu itu, aku selalu meminta kantor untuk mentransferku ke daerah-daerah
pedalaman sebagai perintis. Bertahun-tahun, hingga satu tahun yang lalu. Aku
sudah tahu siapa diriku. Tapi kali ini? Dua tahun telah lalu, dan Wibi yang
berada di posisiku sekarang. Mungkinkah?

 

Mungkinkah dia yang sejak jaman rikiplik nampaknya telah tahu tujuan
hidupnya, sekarang kehilangan pegangan?

 

Kuteringat kata-kata Babe, kenapa tidak? Iya, kenapa tidak? Wibi
juga toh manusia biasa. Aku berdoa buatmu, Wibi. Semoga kamu segera mencari apa
yang sedang kamu cari. Dengan, atau tanpa diriku. I wish you the best. Aku percaya kamu melakukan ini untuk menjadi
seseorang yang lebih baik. A Better Man.

 

 *terinspirasi dari kehidupan
seorang teman.

Praktek Dokter Derrick

March 6th, 2006 by sambilngupi

dr. DERRICK WIBISONO. Dokter
Umum. Buka setiap hari jam 17.00 – 21.00.

Papan terpampang di atas pintu
garasi rumah keluarga Rojali sejak tiga tahun yang lalu. Ruang praktek yang
disulap dari garasi rumah tempat tinggal sekaligus kos-kosan, malam itu
nampaknya penuh. Bisa dilihat dari onggokan sandal yang dilepas para calon
pasien di pintu masuk ruangan itu. Kumasuki ruangan itu tanpa melepas alas
kakiku. Beberapa orang yang menunggu giliran diperiksa duduk berjejer rapi di
kursi yang dipasang mepet tembok sebelah kanan dekat dengan pintu ruangan
praktek. Permisi bu, sapaku kepada
seorang ibu yang sedang duduk menunggu sewaktu melewatinya. Silakan, jawabnya sambil membalas
senyumanku.

 

Sudah enam bulan kira-kira sejak
kedatanganku terakhir di tempat ini. Kedatanganku langsung dari stasiun kereta
api malam ini kumaksudkan sebagai suatu kejutan. Wibi, begitu panggilanku
kepadanya, adalah teman lamaku sejak SMA. Bersama dengan Bana – dr. Jibana
Rojali, sang pemilik rumah itu – membuka praktek ini. Aku berteman dengan Bana,
yang akhirnya juga dengan seluruh anggota keluarganya, sejak beberapa tahun
yang lalu, sebelum akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membuka usaha.

 

Assalamu’alaikum,
kataku memberi salam setelah sedetik aku berdiri di lorong gelap ruangan yang
menghubungkan antara area kos-kosan dengan rumah utamanya. Di ruangan makan itu
biasanya dimana seluruh keluarga berkumpul. Mereka semua, empat orang yang
sedang bercerita serius dan sesekali tertawa, menoleh kepadaku. Kulihat semua
berbinar melihatku. Wa’allaikumsalam!
Dimas!
, hampir serentak mereka berdiri dan menghambur kearahku yang masih
menenteng ransel, travelling bag, dan kantong plastik besar. Apa kabar teman!, tanya Hartono – teman
kami yang lainnya, yang juga kos di sana – sambil mengambil bawaanku untuk membantu. Kami berangkulan. Ipah, tetangga
sang pemilik rumah senyum-senyum kepadaku sebelum menyalamiku, Apa kabar Bang
Dimas? Kudekati Bapak dan Ibu Rojali yang masih duduk sambil memberikan
senyuman lebar. Kucium tangannya sambil menyapa, Babe, Nyak. Dan seperti biasa
obrolan langsung berganti topik tentang diriku yang baru datang.
Pertanyaan-pertanyaan standar, seperti baru pulang dari mana, bagaimana
pekerjaanku, kabar keluargaku, berapa lama di Jakarta.

 

Setelah hampir setengah jam
akhirnya kulihat Bana memasuki ruangan makan itu yang juga menghubungkan ruang
praktek dengan ruang pembuatan obat. Hey
Bana!
teriakku. Bana yang sedang memegang steteskop menengok kehadapanku. Hey! jawabnya. Dia kemudian langsung
masuk ke ruangan meracik obat itu dan mengangkat telunjuknya kepadaku yang
berarti tunggu sebentar. Gitu deh si
Bana, kalo lagi praktek suka jaim tuh! Kami tertawa bersama meledek Bana yang
sedang nampak puyeng. Kulihat dia hanya bisa senyum-senyum saja sambil mengambil
botol-botol besar dan menyerahkannya kepada sang asisten untuk menggerusnya. Hey Bana! Masih aja loe dikira dr. Derrick?,
tanyaku sambil terpingkal-pingkal. Yoi
jek
! Jawabnya.

 

Mana Wibi? Tanyaku tiba-tiba
menyadari bahwa Bana yang sedang praktek.

*bersambung

Manusia Setengah Bintang

January 26th, 2006 by sambilngupi

In a sentimental mood
I can see the stars come through my room
While your loving attitude
Is like a flame that lights the gloom

WANITA itu duduk memandang ke langit dari dunianya yang diselubungi oleh sebuah bahan seperti kaca. Dari dalam ruangannya yang gelap dan hangat, nyaman dirasakan memandang ribuan bintang bertabur. Novel elektronik sepanjang delapan megabytes dalam papan itu dia geletakan begitu saja. Tiga minggu sudah, namun belum satu halaman pun berhasil beranjak dari bab tiga. Konsentrasinya buyar setelah hati tak enak. Dadanya seperti tertusuk-tusuk ribuan jarum, kesedihan dan kepiluan tercurah. Apa yang terjadi?, pikirnya. Dia pun kemudian duduk bersandarkan bantal merah metalik bulat itu. Diraihnya sisir antik dari laci meja kecil disamping tempat tidurnya, dan mulai menyisir rambut hitamnya yang panjang dan tebal.

satu… dua… tiga… Dihitungnya setiap sisiran.

Dia memejamkan matanya merasakan kenyamanan rasa sisir yang mengenai kulit kepalanya.

"Rambutmu panjang dan sangat tebal, PJ". Diciumnya ujung rambut yang dipegangnya. "Jangan dipotong, ya? Aku suka". Disisirnya rambutnya yang panjang itu."Ini sisir peninggalan orang tuaku", sebuah sisir logam yang berukir bewarna kekuningan kemudian diberikan kepadanya.

..

Air matanya menetes mengingat saat itu. Emosi yang dilibatkan membawanya kembali ke ruangan ini. Tugas menyebarkan kebaikan dan kedamaian sudah diembannya selama dua ratus tahun, dan baru kali itu dia gagal melakukan misi itu. Kontrak yang dia tandatangani hampir saja disobek dan dibakar oleh para tetua, jika tidak dia berhasil meyakinkan mereka bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi — selain karena wanita itu juga adalah keturunan ke delapan tetua Zeuflah, tetua yang memiliki jasa bagi dunia itu. Wanita itu akhirnya membayar kegagalannya dengan mengabdikan diri dalam komunitas spiritual masyarakat. Dia memaksakan diri melupakan semuanya.

sembilan belas… dua puluh… dua puluh satu…

Kebaikan dan kedamaian adalah tujuan hidup komunitas itu. Mereka adalah generasi keduabelas, dibentuk oleh nenek moyang mereka yang saling berjanji untuk menyebarkan kedamaian dan kebaikan di masa-masa yang lalu, dan berharap dengan itu bangsa manusia tidak menjadi punah.

Walaupun mereka setengah manusia setengah bintang, namun nenek moyang mereka sebetulnya juga adalah manusia bumi yang berasal dari abad ke duapuluh empat, dimana teknologi sudah sangat maju. Dunia mereka bernama Cyane, yang mereka tempati adalah suatu planet kecil yang terletak beberapa tahun cahaya di luar Galaxy Andromeda.

Masih menyisir, wanita itu berjalan menuju ke balkon ruangannya. Rambutnya yang merah melambai-lambai terkena angin. Dilihatnya carza - kendaraan transportasi komunitas individu - bersliweran kesana kemari. Lampu-lampu yang berjejer sangat rapi di apartuez - rumah tinggal komunitas - terlihat dari balkon aparteuz-nya. Tiba-tiba…

tit tit… tit tit

Wanita itu memalingkan wajahnya dan menjawab setengah berteriak,

"Ya?"

"Jamzz, Petalia Jamzz?"

"Ya?, saya sendiri"

"Sambungan jarak jauh dari Dixie. Diterima?"

Pasti Souxet Teuph, sahabatnya.

"Ya! Sambungkan!"

"Teuph! Sahabatku. Shelamla!"

"Shelamla Jamzz. Apa kabar kasihku?"

Sang wanita mengambil duduk di sofa kecilnya dekat kasurnya. "Baik selalu buatmu, sahabatku. Apa yang membuatmu menghubungiku di malam hangat ini?"

"Keinginanku sangat kuat menghubungi dan menanyakan kabarmu. Aku tidak melakukannya dengan cara telepati seperti yang biasa kita lakukan, aku ingin mendengar suaramu, manisku".

"Aku sangat baik! Kemampuan kinetikmu mungkin sedang tidak benar terkena panas bleux nampaknya", canda Jamzz menutupi keadaan sebenarnya. Bleux adalah sebutan bagi sumber energi panas mereka.

Perasaan yang dia punya saat ini adalah larangan didunianya. Hukuman atas pelanggaran perasaan cinta kepada komunitas dimensi lain sangat berat.

Beberapa saat, percakapan itu selesai, perasaan Jamzz sedikit terobati. Dia bersiap untuk menyambut hari yang baru. Tujuh puluh empat jam bumi, adalah satu hari Cyane.

JAMZZ mempersiapkan segala peralatan berdoa pagi itu. Dari jegalza - altar - sampai pada xwegalza - lonceng kecil yang dipakai untuk ritual berdoa masing-masing individu - dipersiapkan dengan baik. Setengah bilu lagi mulai. Bilu adalah kira-kira delapan puluh tiga menit bumi, ukuran satu untuk jam. Dia membawa naik rambut panjangnya ke atas, dan memuntirnya dengan tangannya. Dijepitnya puntiran rambutnya dengan penjepit. Dia mematut dirinya dan menggunakan selendang berwarna keperakan, sesuai dengan warna baju panjangnya - baju berdoa yang dipakai komunitas itu. Kemudian dia bergegas keluar ruangan jegalza untuk menyambut para pendoa.

"Shelamla, pendamai Jamzz", ujar para pendoa yang berdatangan sambil mengatupkan kedua  tangan sampai ketinggian hidung sambil mengangguk.

"Shelamla", balas Jamzz.

Jamzz kemudian memasuki ruangan jegalza bersama dengan semua pendoa, menunggu sang pendeta memasuki ruangan yang sama. Kebanyakan dari mereka menundukkan kepala sambil mengacung-acungkan xwegalza, sehingga ruangan yang tadi riuh karena hiruk pikuk pendoa, berganti dengan bunyi lonceng kecil itu.

"Shelamla". Akhirnya pendeta memasuki ruangan itu disambut oleh xwegalza yang dilambai-lambaikan oleh pendoa, yang artinya mengelukan kedatangan.

Sesi berdoa berjalan sampai setengahnya, ketika Jamzz merasakan hatinya kembali bak diiris sembilu.

"Perasaan ini datang lagi", pikir Jamzz yang masih mengikuti proses berdoa sambil menutup mata dan berlutut, memegang xwegalza di dalam katupan kedua tangannya. Gelisah ia mengikuti doa-doa yang dipanjatkan.

*bersambung*
Tulisan ini adalah sambungan dari Bintang Jatuh.
Diilhami oleh lagu Ella Fitzgerald - In a Sentimental Mood 

Bintang Jatuh

January 23rd, 2006 by sambilngupi

StarLELAKI itu melamun di teras belakang rumahnya yang berada di tebing pegunungan itu. Pandangannya ke laut tidak ia lepaskan. Deburan ombak memecah, dan bunyinya mengikis hatinya. Dalam beberapa tahun belakangan, malam-malam seperti ini dia habiskan dengan memandang ke langit luas dan menghitung bintang. Mengharapkan adanya bintang jatuh, untuk membuat suatu permintaan. Tapi tidak malam ini. Dia sudah patah semangat menunggu bintang itu.
.
Berkilometer panjang doanya ia sampaikan kepada Sang Maha, memohon agar diberikan kesempatan untuk mendapatkan kembali saat itu. Saat berharga yang dia buang begitu saja. Berpuluh-puluh gumpalan kertas berserakan, menemani semangatnya yang jatuh di tanah. Tidak ada kalimat-kalimat tertulis baru, sejak kejayaannya beberapa tahun yang lalu. Janjinya pada diri sendiri untuk tidak menulis lagi, sebelum dia menemukannya lagi.
.
"Kemana saya harus mencarimu? Apakah saya benar-benar kehilanganmu? Saya tak berdaya mengembalikanmu, kasih"
.
Dia menangis tanpa bersuara. Mukanya jatuh di kedua tangannya yang telungkup. Air matanya menetes dari matanya, melalui lengannya, dan jatuh ke jurang. Bersatu dengan laut. Kesedihan dan kepiluan air mata itu terbawa arus ke laut lepas. Tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, sampai akhirnya tertidur. Malam semakin larut, dan bulan semakin terang. Beberapa kunang-kunang terlihat mengitari dirinya yang telah tertidur pulas. Kunang-kunang yang sama, setiap malam.
.
Keesokan paginya, matahari menyambut pagi. Kunang-kunang telah pergi, dan lelaki itu telah meninggalkan tempatnya. Butiran-butiran air laut menguap, membawa serta air mata kesedihan dan kepiluannya.
.
.

SANG lelaki sampai ke tempat tujuannya. Sebuah pohon rindang yang dihuni beratus-ratus burung beraneka-ragam. Dibukanya kantong kertasnya dan dikeluarkannya butiran-butiran gandum dan remah roti. Burung-burung terbang mendekat kepadanya, menghinggapi bahu sang lelaki.
.
"Hey, apa kabar kalian semua? Kalian masih ingat sama saya ya? Sudah lama saya tidak kesini dan menemui kalian", katanya sambil tersenyum dan menaburkan isi kantongnya.
.
Tempat ini mengingatkannya akan kehidupannya dulu, bersama seseorang yang menjadi sang kekasih. Dia masih menikmati kebersamaan burung-burung dan kekosongan hati, sewaktu butiran air matanya sampai kepada langit. Air mata kesedihan dan kepiluan terurai menjadi embun yang jatuh kembali ke bumi, membuat aura sekitar menjadi mendung. Langit tak berpendar biru, surya tak berkilat cahaya. Daun tak berhijau terang, bunga tak sesedap wangi.
.
Suatu saat di suatu dimensi, terlihat seorang wanita yang ditemani oleh kunang-kunang, merasakan aura itu. Hatinya yang sakit terkikis oleh kesedihan beberapa lama yang lampau, kembali terkuak. Dia merasa lelaki itu memanggil. Menginginkan kehadirannya. Sepandai-pandainya ia untuk menutupi emosi, namun dia tetap mahluk yang memiliki perasaan. Kerinduan itu kembali menengadah. Kegelisahan menghapiri diri. Tak sanggup melawan kodrat.
.
"Aku akan kembali", katanya.
.
.

HARI berganti hari, minggu berganti minggu, dan genap setahun bumi sejak tetesan air mata pilu menyentuh laut. Kembali malam itu sang lelaki masih tepekur memandang kertas putih kosong yang tertambat pada mesin ketiknya. Jangankan ingat pada janjinya untuk tidak menulis, semangatnya pun untuk hidup sudah tidak ada.
.
"Sang Maha, berilah saya satu bintang jatuh. Berilah kesempatan pada saya untuk membuat satu permintaan atas bintang itu".
.
Dia ingin menangis, namun air matanya telah kering terperas oleh kepiluan hatinya. Dia kembali memandang langit luas, menghitung bintang. Sampai pada…    
.

Wanita itu bertekad hati untuk kembali kepadanya. Saya mencintainya, katanya mantap. Dan berangkatlah dia menemui kasihnya.

.
… bintang jatuh! Lelaki itu hampir tidak dapat mempercayai matanya sendiri. Cepat! Buatlah permintaanmu!, teriak kepalanya.
.
"Saya minta sang kasih untuk datang kepadaku. Saya berjanji untuk tidak menyakiti hatinya lagi. Saya akan mencintai dirinya segenap hati."
.
Tak dinyana, sang bintang jatuh didekatnya. Sang lelaki takjub tak kuasa bergerak. Tercengang melihat bintang berubah menjadi pendaran cahaya.

"…wish upon a shooting star, and hope that your dream will come true…"

.
*bersambung*

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan "Pendekar Bebek Bertattoo (#5): Perginya PJ".

The T Word

January 20th, 2006 by sambilngupi

AC di mobil terasa dingin sekali. Keinginan itu muncul lagi. Menggebu-gebu. Tiga hari lamanya aku mencoba keras untuk melupakannya. Tapi hawa dingin dan cuaca yang mendung, sangat mendukung.

"Sayang, cakung"

"Kamu pengen ya? Iya, cuaca mendukung sekali"

"Perjalanan masih lama ya? Duh, macet segala. Kalau di sini aja gimana ya, Baby?"

"Hus, kalau dilihat orang lain kan malu. Masih terang sayang. Kalau malem aja ga papa"

Dia mengedipkan matanya padaku.

"Ah, kamu", jawabku sambil mencubit sayang lengannya.

Dorongan itu sangat kuat. Membuatku terengah-engah.

Kekasihku mengetahui keadaanku dan hanya mengelus-elus punggung tanganku dengan sayang. "Sabar baby, bentar lagi nyampe rumah. Kamu bisa lepaskan semua. Puasin semuanya, ya?"

Aku mengangguk. Gerbang rumah mulai terlihat.

Duh, satu menit seperti satu hari.

"Ayo buruan sayaaaang", nafasku semakin memburu.

Kulepaskan semuanya.

Aku puas.

"Makanya, tokai jangan dipiara"

"Sial loe", jawabku sambil ngeloyor ke dapur.

LET THE COMPILATIONS OF JAVA JAZZ FESTIVAL 2006 BEGIN…

January 19th, 2006 by sambilngupi

These following releases represent a wide range of styles and performers. The various styles all share the spontaneity and creativity that mark great improvisation. That is what jazz is about: the thrill of hearing music that is composed spontaneously, reflecting the spirit and passions of the musicians who create it.

Please visit www.javajazz.com for the very update progress!

Javajazz_1

my baby just cares for me

January 14th, 2006 by sambilngupi

Pagi itu saya bertanya pada kekasih saya, "Kalau aku tua nanti menjadi gemuk, mlorot, keriput, dan bau, kamu masih tetap cinta padaku?". Dengan entengnya dia jawab, "Ya pastilah sayang, wong istri orang saja aku sayang, apalagi istri sendiri", sambil membalik halaman koran. "Baby!", jeritku sambil memelototkan mata. Dia tertawa. Lalu jawabnya sambil melihatku, "Kamu selalu cantik di mata saya". Dan aku pun tersenyum.

.

N_simone_1_1 My Baby Just Cares for Me

(1928) Gus Kahn, Walter Donaldson 
    
My baby don’t care for shows, My baby don’t care for clothes
My baby just cares for me
My baby don’t care for cars and races, My baby don’t care for high-tone places

Liz Taylor is not his style, And even Lana Turner’s smile
Is somethin’ he can’t see
My baby don’t care who knows, My baby just cares for me

Baby, my baby don’t care for shows, And he don’t even care for clothes
He cares for me
My baby don’t care, For cars and races
My baby don’t care for, He don’t care for high-tone places

Liz Taylor is not his style, And even Liberace’s smile
Is something he can’t see, Is something he can’t see
I wonder what’s wrong with baby
My baby just cares for, My baby just cares for
My baby just cares for me

[This is a song written for the musical film Whoopee! (US 1930, by Thornton Freeland, with Eddie Cantor). The song was sung and danced by Ethel Shutta.
In the 50s it was in the repertoire of Frank Sinatra. In 1959 the song had been included in first Nina's recording session because a "bright" up-tempo number was needed to finish the album with.
Thirty years later, in 1987, "My Baby Just Cares for Me" was adopted as the theme for a British television advert for Chanel No 5 perfume, and reached the 5th place on the English pop charts.]

G_michael_1Alex_chiltonSmoma_1Natalie_coleversi yang saya punya saat ini: nina simone, smoma, george michael. Ada yang berbaik hati mau nambahin? Katanya masih ada versinya Frank Sinatra, Cyndi Lauper, Natalie Cole, Nat King Cole, Alex Chilton, Jan Garber, John Pizzarelli, Francis Faye.

Half Light

January 14th, 2006 by sambilngupi

HalflightRelease Date: January 17, 2006 (DTV)
Pemain: Therese Bradley, James Cosmo,Henry Ian Cusick, Ellie Davis, Beans El-Balawi, Joanna Hole, Kate Isitt, Hans Matheson, Demi Moore, Mickey Wilson
GENRE: horror/mystery

Sinopsis:
Rachel Carlson is a successful mystery novelist whose life falls apart when her 5-year-old son drowns at her country home. A year later, in an effort to heal her wounds and help her to start writing again, her best friend rents her a secluded cottage in a remote fishing village, where events unfold that rock the tranquil village and cause Rachel to fear for her sanity and her life.

They say:
Writer Rachel Carlson played by Demi Moore is left unable to write after the tragic death of her son.

In a hope to remove her writers block she moves to a remote island off Scotland. A local psychic startles her with a comment about her son and after befriending a local lighthouse keeper things begin to get creepy. Is she imagining strange things happening because of the isolation and the fact she has recently stopped taking medication for depression, or are they real? There is an unfortunate plot stopper 3/4 of the way in the film where a conversation opens out the plot to a point you may think why continue watching, but there is still a twist in the end.

R17 rating but no profanity or nudity (but did have short above the shoulders tasteful sex scene). I think the rating came from one violent scene in particular involving a child. A little bit of gore toward the end but not too graphic.

I say:
Awal-awal cerita menarik banget. Seorang penulis wanita (Moore) yang tinggal di London di tepi sungai Thames (aku ngarang), dengan rumah yang sangat menarik, ditambah dengan warna-warni taman yang ciamik, memberi napas ke’ademan’ sampai pada anak semata wayangnya yang kecemplung sungai dan mati gara-gara pagar belakang lupa ia kunci.

Singkat cerita Moore pindah ke sebuah daerah terpencil tepi pantai Skotlandia untuk menyepi sekaligus merampungkan novelnya. Hari-hari awalnya diisi dengan halusinasi kehadiran roh anaknya yang meninggal. Kengeriannya cukup ok dan mengagetkan, apalagi sejak pemirsa diajak kaget sewaktu mengetahui Moore bertemu seseorang lelaki penjaga lighthouse yang kata penduduk sekitar sudah mati 7 tahun yang lalu.

Singkat cerita (kedua) ternyata semua adalah suatu permainan sang bekas suami dan sang sahabat Moore, yang mengincar uang Moore hasil larisnya novel yang lalu.

Dalam film ini menampilkan seorang cenayang yang menambah menariknya jalan cerita. Sang cenayang yang dianggap orang gila oleh penduduk sekitar bisa merasakan kehadiran roh sang anak yang meninggal, yang mengatakan bahwa anak ini hadir untuk menjaga sang ibu yang akan mendapatkan kemalangan.

Akhir cerita garing banget (sayang banget, ceu), yang menuju pada kematian sang aktor penjaga lighthouse, sang sahabat, dan mantan suami, oleh roh penjaga lighthouse itu yang mati bunuh diri.

Anyway, yang membuat saya tertarik pada film ini adalah karena karakter utamanya adalah seorang penulis wanita, fotografi dan settingnya bagus (tepi pantai, cabin, tanaman ranum), dan satu lagi: misteri dan come backnya mbakyu Demi Moore. Tapi sisanya sih datar-datar aja.

must see dalam rangka:
seru 3/5
berpikir 2/5
terharu 2/5
jijay bajaj 0/5

sumber yang dipakai: IMDb

Love

December 30th, 2005 by sambilngupi

By the Sea, 1947.

Bythesea_1"What does your love to me mean?"
"… As i never love anyone before"
"Can it still make us comfy if im ‘away’?"
"If that makes u feel better ..then yes. I’ll be waiting. I love you enough to let you go too"
"Your heart is so clean"
"Only because and to you. You make me a better person"
"Can you do it to another person?"
"No"
"Why?"
"Maybe the way I love you makes me can do what I just said, and I dont think I can love anyone the way I love you"
(clear throat, drop of tears)
"Can your love for me make you love others like you love me?"
"As a man to another woman, no. Only to you I can. As a person to another person I maybe can be a more pleasant person to my surroundings because my heart is warm - because of you"
(drop of tears)
"I love you. Although we are far away, you’ll always be in my heart"

Have a Happy New Year 2006, Guys.
Spread the love, and breath it in the air.

*pict taken from UK stock image

kutertidur pulas di pundi emasmu

December 5th, 2005 by sambilngupi

gledek!

gile men!

kaget!