being a trigger fish
Friday, February 16th, 2007
Aku bolak balik laukku yang hampir ludes semuanya.
Ikan.
Akhir-akhir ini aku sering makan ikan. I have my own reason kenapa aku jarang makan ikan. Ah, itu ga penting. Anyway,
Ikan masak bumbu pedes, yang dioleskan diatasnya.
Ikannya sendiri dibakar.
Nyam nyam abas.
Dagingnya yang tidak berduri, dengan bongkahan daging yang rasanya antara gurih dan manis.
Belum ditambah dengan topping berbentuk pasta sambal. ‘Mak Nyus’, kalo kata Pak Bondan Winarno.
.
.
Ikan ini saya kenal dengan trigger fish. Salah satu ikan yang cukup besar dan galak.
Jangan salah dulu, bukan sebesar paus atau segalak hiu.
Tapi, kira-kira sebesar ikan gurami tapi lebih agresif daripada hiu.
.
.
Termasuk keluarga parrot fish yang bergigi depan segede permen Sugus jaman dulu, dengan mata melotot sibuk melirik kesana kemari (seakan mencari … siapa korban diver gue saat ini?).
Mencari makan dengan cara menggerogoti karang. Iya, menggerogoti.
Bayangin aja setajem apa tuh gigi?
Huh, ternyata galak tuh karena dagingnya eunak begindang!
Pantes aja.
Jadi ingat aku akan beberapa tipe orang yang galak segalak-galaknya, hanya karena menutupi kelemahannya. Yup. persis kaya trigger fish ini.
.
.
Jadi ingat lagi juga dibandingkan dengan raja hutan.
Kenapa sih dinamakan Raja Hutan? Kenapa ‘raja’ gituloh.
Mungkin karena karisma?
Ngeliat tampangnya aja takut. Palagi kalo dikejar.
Huah, pasti langsung pingsan sampai ga sempet pipis di celana saking takutnya.
Pasti dalem hati ngomong gini kalo dikejar ama singa, "I beg you, do it fast".
.
.
Baru-baru ini ada seorang teman yang bilang sama aku:
"Mak, kata si uhm, dia minta maap"
Napa bank?
"Iya, si uhm takut mak marah"
Hah?
.
.
Orang yang kukenal (hanya dari satu sumber) yang sangat egosentris, ga mau kalah, dan tidak bisa menghargai orang lain, bisa takut sama aku?
.
.
Ketemu aja belum.
And I didn’t even act galak.
Or, maybe I AM that scary after all?