…
Wednesday, September 13th, 2006putih
dingin
kosong
hampa
.
melayang bagaikan layangan putus yang terbang tinggi
lepas
tidak jelas arah
.
sepi
.
bisa kugambarkan di kepalaku
warna jantungku yang merah tua semu hitam
merah karena masih hidup berdegup
hitam karena friksi sakit yang sering kurasakan
semacam borok
yang separuh kering dan siap untuk bernanah lagi
.
aku terdiam
lama
mungkin ada limabelas menit lamanya
otakku juga diam
lama
tidak berniat berpikir apa-apa
.
sampai akhirnya pengemudi mengagetkanku
menanyakan jalan mana yang sebaiknya kita tempuh
oh common, kata kepalaku (akhirnya)
saya hanyalah tamu, gimana saya mesti tau jalan?
sumpah serapah sejuta topan badai hampir kuberondongkan,
kalau tidak ingat bahwa memang standar pertanyaan sudah demikian
bapak saja deh yang mencarikan jalan buat kita, jawabku (akhirnya)
kendaraan melaju melalui jalan yang ditempuhnya
.
diam lagi
sepi lagi
putih lagi
dingin lagi
kosong lagi
.
dadaku kembali terasa tersayat
mataku mulai berkaca-kaca
siap menjatuhkan bergalon-galon bongkahan air mata
segera aku menyerot ingusku yang hampir turun
.
biarlah berbunyi nyaring,
daripada sesenggukanku yang terdengar
basi banget nangis di sini
.
tiba-tiba kurasakan telepon genggamku bergetar ditanganku
kutatap lama nama yang muncul di layar
haruskah aku mengangkatnya?
tiba-tiba aku tak kuasa menahan bongkahan air mataku
.
… dan akhirnya aku menangis
(jakarta, akhir agustus 2006)