Praktek Dokter Derrick
dr. DERRICK WIBISONO. Dokter
Umum. Buka setiap hari jam 17.00 – 21.00.
Papan terpampang di atas pintu
garasi rumah keluarga Rojali sejak tiga tahun yang lalu. Ruang praktek yang
disulap dari garasi rumah tempat tinggal sekaligus kos-kosan, malam itu
nampaknya penuh. Bisa dilihat dari onggokan sandal yang dilepas para calon
pasien di pintu masuk ruangan itu. Kumasuki ruangan itu tanpa melepas alas
kakiku. Beberapa orang yang menunggu giliran diperiksa duduk berjejer rapi di
kursi yang dipasang mepet tembok sebelah kanan dekat dengan pintu ruangan
praktek. Permisi bu, sapaku kepada
seorang ibu yang sedang duduk menunggu sewaktu melewatinya. Silakan, jawabnya sambil membalas
senyumanku.
Sudah enam bulan kira-kira sejak
kedatanganku terakhir di tempat ini. Kedatanganku langsung dari stasiun kereta
api malam ini kumaksudkan sebagai suatu kejutan. Wibi, begitu panggilanku
kepadanya, adalah teman lamaku sejak SMA. Bersama dengan Bana – dr. Jibana
Rojali, sang pemilik rumah itu – membuka praktek ini. Aku berteman dengan Bana,
yang akhirnya juga dengan seluruh anggota keluarganya, sejak beberapa tahun
yang lalu, sebelum akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membuka usaha.
Assalamu’alaikum,
kataku memberi salam setelah sedetik aku berdiri di lorong gelap ruangan yang
menghubungkan antara area kos-kosan dengan rumah utamanya. Di ruangan makan itu
biasanya dimana seluruh keluarga berkumpul. Mereka semua, empat orang yang
sedang bercerita serius dan sesekali tertawa, menoleh kepadaku. Kulihat semua
berbinar melihatku. Wa’allaikumsalam!
Dimas!, hampir serentak mereka berdiri dan menghambur kearahku yang masih
menenteng ransel, travelling bag, dan kantong plastik besar. Apa kabar teman!, tanya Hartono – teman
kami yang lainnya, yang juga kos di sana – sambil mengambil bawaanku untuk membantu. Kami berangkulan. Ipah, tetangga
sang pemilik rumah senyum-senyum kepadaku sebelum menyalamiku, Apa kabar Bang
Dimas? Kudekati Bapak dan Ibu Rojali yang masih duduk sambil memberikan
senyuman lebar. Kucium tangannya sambil menyapa, Babe, Nyak. Dan seperti biasa
obrolan langsung berganti topik tentang diriku yang baru datang.
Pertanyaan-pertanyaan standar, seperti baru pulang dari mana, bagaimana
pekerjaanku, kabar keluargaku, berapa lama di Jakarta.
Setelah hampir setengah jam
akhirnya kulihat Bana memasuki ruangan makan itu yang juga menghubungkan ruang
praktek dengan ruang pembuatan obat. Hey
Bana! teriakku. Bana yang sedang memegang steteskop menengok kehadapanku. Hey! jawabnya. Dia kemudian langsung
masuk ke ruangan meracik obat itu dan mengangkat telunjuknya kepadaku yang
berarti tunggu sebentar. Gitu deh si
Bana, kalo lagi praktek suka jaim tuh! Kami tertawa bersama meledek Bana yang
sedang nampak puyeng. Kulihat dia hanya bisa senyum-senyum saja sambil mengambil
botol-botol besar dan menyerahkannya kepada sang asisten untuk menggerusnya. Hey Bana! Masih aja loe dikira dr. Derrick?,
tanyaku sambil terpingkal-pingkal. Yoi
jek! Jawabnya.
Mana Wibi? Tanyaku tiba-tiba
menyadari bahwa Bana yang sedang praktek.
*bersambung