Archive for March, 2006

Praktek Dokter Derrick – Bag 2

Monday, March 6th, 2006

MANA WIBI? Tanyaku tiba-tiba
menyadari bahwa Bana yang sedang praktek.

 

Lagi di Maluku, teriak Bana tiba-tiba dari ruangan racik obat.

Maluku? tanyaku. Bukannya
terakhir dia kirim surat alamatnya di Nias
?

Tahulah Wibi kaya apa, jawab Nyak sambil menyeruput teh kentalnya.

Ada apa di Maluku?

Baru dua bulan, katanya dia suka di sana dan akan jadi tempat
terakhirnya
, jawab Hartono sambil memberikan bentuk bibir yang mengejek.

Kami semua tahu kalau Wibi dalam
surat-suratnya selalu bilang kalau tempat yang sedang dia datangi adalah tempat
terakhirnya.

Maluku? Kenapa Maluku? Katanya terakhir dia akan pindah ke Lombok.
Sempat?

Nggak, sekarang Babe baru menjawab sejak tadi hanya mendengarkan
dan memainkan kumisnya yang ujung-ujungnya masuk ke dalam mulutnya. Kenapa tidak?

Orang-orang sana suka kepadanya. Mereka pikir karena dia putih, dia orang Singgapur yang bisa
berbahasa Indonesia
. Secara dia orang medok gituloh, kata Ipah menimpali sambil
tertawa.

Ente tahu juga ya dia sempat di Nias? tanya si Nyak.

Saya mendapatkan suratnya dua minggu yang lalu, sepertinya surat itu sebulan terlambat saya terima. Saya
sedang keluar masuk hutan Irian untuk membuka jalan baru
.

Kenapa Irian sih Bang?, tanya Ipah.

Kenapa tidak? tanya Babe lagi sambil beranjak mengambil roti di
atas kulkas tanggung di dekatku.

Aku terdiam. Iya, kenapa tidak?

 

Aku membayangkan bahwa Wibi
sedang bepergian ke seluruh pelosok Indonesia mempraktekan keahliannya sebagai dokter. Seperti aku juga. Menyenangi tempat
yang relatif susah untuk hal fasilitas. Keinginan untuk mencari sesuatu yang
baru dan terutama keras adalah kesukaan kami berdua sejak dulu. Tapi tak
kunyana Wibi masih melakukannya.

 

Mau jadi apa loe besok?, tanyaku sewaktu menunggu bis sepulang
sekolah.

Dokter, jawab Wibi.

Hah? Yakin loe?

Ya iyalah! Gue obses ama
membantu orang. Satu-satunya ya jadi dokter. Semua orang butuh dokter.
Membantunya jelas, gitu. Ga perlu dibayar juga ga papa. Yang penting gua ada
kalo mereka butuh.

 

Kami berdua terdiam sambil
melihat angin.

Satu-satu asap nikotin kami
hembuskan.

 

Kalo eloe?, tanyanya kembali.

Gelap, jawabku. Gua pengen
kerja sambil main
.

Main?

Iye, main. Sambil lihat-lihat kekayaan Indonesia. Bayangin aje jek, Indonesia segini
gedenya, gua cuman tahu Jakarta
 doank!

Iye, emang tuh. Loe emang malu-maluin.

 

Kami berdua tertawa.

 

Di antara kami berdua, kami tahu
kalau Wibi adalah yang dituakan. Dewasa. Pemberi nasihat, pemberi semangat. Dan
aku? Aku adalah perusak, perusuh, kekanak-kanakan, pokoknya semua dari
kebalikannya Wibi. Tapi mungkin hal yang berbeda itulah bisa saling mengisi.
Aku membutuhkannya untuk mendewasakan dan meluruskan jalanku, dan nampaknya dia
membutuhkanku untuk membangunkannya dari kekerasan hatinya.

 

Bertahun-tahun Wibi memberikanku
semangat untuk hidup, sehingga aku mulai mengerti arti diri. Dalam perjalanan
waktu itu, aku selalu meminta kantor untuk mentransferku ke daerah-daerah
pedalaman sebagai perintis. Bertahun-tahun, hingga satu tahun yang lalu. Aku
sudah tahu siapa diriku. Tapi kali ini? Dua tahun telah lalu, dan Wibi yang
berada di posisiku sekarang. Mungkinkah?

 

Mungkinkah dia yang sejak jaman rikiplik nampaknya telah tahu tujuan
hidupnya, sekarang kehilangan pegangan?

 

Kuteringat kata-kata Babe, kenapa tidak? Iya, kenapa tidak? Wibi
juga toh manusia biasa. Aku berdoa buatmu, Wibi. Semoga kamu segera mencari apa
yang sedang kamu cari. Dengan, atau tanpa diriku. I wish you the best. Aku percaya kamu melakukan ini untuk menjadi
seseorang yang lebih baik. A Better Man.

 

 *terinspirasi dari kehidupan
seorang teman.

Praktek Dokter Derrick

Monday, March 6th, 2006

dr. DERRICK WIBISONO. Dokter
Umum. Buka setiap hari jam 17.00 – 21.00.

Papan terpampang di atas pintu
garasi rumah keluarga Rojali sejak tiga tahun yang lalu. Ruang praktek yang
disulap dari garasi rumah tempat tinggal sekaligus kos-kosan, malam itu
nampaknya penuh. Bisa dilihat dari onggokan sandal yang dilepas para calon
pasien di pintu masuk ruangan itu. Kumasuki ruangan itu tanpa melepas alas
kakiku. Beberapa orang yang menunggu giliran diperiksa duduk berjejer rapi di
kursi yang dipasang mepet tembok sebelah kanan dekat dengan pintu ruangan
praktek. Permisi bu, sapaku kepada
seorang ibu yang sedang duduk menunggu sewaktu melewatinya. Silakan, jawabnya sambil membalas
senyumanku.

 

Sudah enam bulan kira-kira sejak
kedatanganku terakhir di tempat ini. Kedatanganku langsung dari stasiun kereta
api malam ini kumaksudkan sebagai suatu kejutan. Wibi, begitu panggilanku
kepadanya, adalah teman lamaku sejak SMA. Bersama dengan Bana – dr. Jibana
Rojali, sang pemilik rumah itu – membuka praktek ini. Aku berteman dengan Bana,
yang akhirnya juga dengan seluruh anggota keluarganya, sejak beberapa tahun
yang lalu, sebelum akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membuka usaha.

 

Assalamu’alaikum,
kataku memberi salam setelah sedetik aku berdiri di lorong gelap ruangan yang
menghubungkan antara area kos-kosan dengan rumah utamanya. Di ruangan makan itu
biasanya dimana seluruh keluarga berkumpul. Mereka semua, empat orang yang
sedang bercerita serius dan sesekali tertawa, menoleh kepadaku. Kulihat semua
berbinar melihatku. Wa’allaikumsalam!
Dimas!
, hampir serentak mereka berdiri dan menghambur kearahku yang masih
menenteng ransel, travelling bag, dan kantong plastik besar. Apa kabar teman!, tanya Hartono – teman
kami yang lainnya, yang juga kos di sana – sambil mengambil bawaanku untuk membantu. Kami berangkulan. Ipah, tetangga
sang pemilik rumah senyum-senyum kepadaku sebelum menyalamiku, Apa kabar Bang
Dimas? Kudekati Bapak dan Ibu Rojali yang masih duduk sambil memberikan
senyuman lebar. Kucium tangannya sambil menyapa, Babe, Nyak. Dan seperti biasa
obrolan langsung berganti topik tentang diriku yang baru datang.
Pertanyaan-pertanyaan standar, seperti baru pulang dari mana, bagaimana
pekerjaanku, kabar keluargaku, berapa lama di Jakarta.

 

Setelah hampir setengah jam
akhirnya kulihat Bana memasuki ruangan makan itu yang juga menghubungkan ruang
praktek dengan ruang pembuatan obat. Hey
Bana!
teriakku. Bana yang sedang memegang steteskop menengok kehadapanku. Hey! jawabnya. Dia kemudian langsung
masuk ke ruangan meracik obat itu dan mengangkat telunjuknya kepadaku yang
berarti tunggu sebentar. Gitu deh si
Bana, kalo lagi praktek suka jaim tuh! Kami tertawa bersama meledek Bana yang
sedang nampak puyeng. Kulihat dia hanya bisa senyum-senyum saja sambil mengambil
botol-botol besar dan menyerahkannya kepada sang asisten untuk menggerusnya. Hey Bana! Masih aja loe dikira dr. Derrick?,
tanyaku sambil terpingkal-pingkal. Yoi
jek
! Jawabnya.

 

Mana Wibi? Tanyaku tiba-tiba
menyadari bahwa Bana yang sedang praktek.

*bersambung