Archive for December, 2005

Love

Friday, December 30th, 2005

By the Sea, 1947.

Bythesea_1"What does your love to me mean?"
"… As i never love anyone before"
"Can it still make us comfy if im ‘away’?"
"If that makes u feel better ..then yes. I’ll be waiting. I love you enough to let you go too"
"Your heart is so clean"
"Only because and to you. You make me a better person"
"Can you do it to another person?"
"No"
"Why?"
"Maybe the way I love you makes me can do what I just said, and I dont think I can love anyone the way I love you"
(clear throat, drop of tears)
"Can your love for me make you love others like you love me?"
"As a man to another woman, no. Only to you I can. As a person to another person I maybe can be a more pleasant person to my surroundings because my heart is warm - because of you"
(drop of tears)
"I love you. Although we are far away, you’ll always be in my heart"

Have a Happy New Year 2006, Guys.
Spread the love, and breath it in the air.

*pict taken from UK stock image

kutertidur pulas di pundi emasmu

Monday, December 5th, 2005

gledek!

gile men!

kaget!

Tikar, Payung, dan Sebotol Air Mineral

Friday, December 2nd, 2005

Pr999gl0247Bunyi erangan laki-laki itu sangat mengganggu telinga. Bau busuk sungai dihadapannya bercampur dengan bau keringat dan aroma mulut seonggok manusia bejat yang sedari tadi menindihnya. Mual perutku. Nyamuk-nyamuk menyerang paha perempuan setengah baya itu, gigitan semut rangrang membuat gatal kedua kaki dan tangan. Lelaki itu berdiri sebentar, dan langsung melepas celana panjang lusuh itu. Dia kemudian buru-buru menindih kembali tubuh mungil sang wanita. Kasar sekali. Demi anakku. Dirasakannya bagian tubuh lelaki itu yang sudah sangat keras menyerang bagian tubuhnya. Tidak ada yang prifat lagi. Sesaat rasa sakit dibagiannya berpindah ke bagian tubuh belakang yang menggesek kulitnya. Tikar tipis yang mereka pakai menindih beberapa batu kecil. Sial, pikirnya, tidak bersih benar aku menghilangkan batu-batu ini. Dipejamkan mata, digigit sendiri sedikit bibir bawah. Dibiarkan laki-laki menggerilya dan menghujani dirinya di sana. Sakit. Bagian itu dan hati. Diliriknya botol air mineral yang diletakkan tidak jauh dikegelapan malam itu. Demi anakku, kuatnya lagi pada dirinya sendiri.

Beberapa menit berlalu, sepertinya berjam-jam rasanya. Sang onggokan daging bejat sudah puas. Dia berdiri dan membenahi celana. Diambilnya dompet, dan dilemparkannya uang tigapuluh ribuan ke dada si perempuan yang masih terlentang dengan rok yang terangkat. Si perempuan lega - karena usai sesi ini, dan karena dia mendapat ekstra lima ribu rupiah. Sang lelaki pergi sambil menyulut rokok cengkehnya. Baunya menghilang seirama dengan hilangnya bayangan sang lelaki.

Sang wanita membenahi baju, menggulung tikar tipis yang sudah bolong sana-sini dan melipatnya ke dalam tas besar, mengambil payung dan botol air mineral. Diterabas gelapnya malam dengan ribuan nyamuk, dan pergi ke pangkalannya lagi. Di Halte Bis Kotabaru.

*Diilhami oleh sang ‘legenda’ Kota Yogyakarta, Yu Darmi.
*pict taken from UK stock image