Archive for November, 2005

Strike A Pose

Wednesday, November 9th, 2005

240x320_1Ayahnya meninggal setahun yang lalu, ibunya terbaring lunglai di rumah sakit seminggu ini. Adik-adiknya kelaparan. Dia harus bekerja!

Siang itu, dengan backdrop abu-abu, lampu terang menyilaukan mata, fan besar, dua buah G Force dan empat buah kamera Nikon dan Canon, berpuluh-puluh orang, bergelas-gelas kopi, dan sebuah kemauan keras.

Angkat lagi tangannya!

Pose… Tahan!

cekrik

Tahaaaan… tahaaaannn! Bagus! Senyum!

cekrik cekrik cekrik

Take five semua! Daniella, sini bentar… Matikan lampunya dulu!

Kuletakkan Canon 350D-ku. Daniella mendekat. Model yang lain berpencar.

Ada masalah apa? Senyum lepas susah, mata berekspresi susah, apa susahnya nge-pose sih?

Daniella terlihat frustasi. Dia model baru agency triple-one. Ini kali pertamaku bertemu dengannya. Kutampik masukan Jordy untuk memanggilkan si Rocky - Manager Model agency ini. Aku menggeleng.

Senyum kamu hambar, mata kamu kurang tajam. Kamu ga dikasih tahu kalau kita sedang shoot buat iklan ini? Ekspresi neng! Its a parfume ad… yang ga pake kata-kata terlalu banyak, jadi kita dituntut untuk memberikan ekspresi yang pas. Inget kan briefingnya? Ring a bell? Aku hampir melompat karena kesal. Empat jam sudah belum mendapatkan satu gambar pun yang bagus, karena Daniella.

Kutarik tangan Daneilla yang lunglai ke sofa merah diujung ruangan gelap dekat meja rias berlampu bulat-bulat dan cantolan kostum pemotretan. "The Judgment Sofa", istilah anak-anak. Kusulut rokok, kuhisapnya, dan kulipat tanganku di dada. So tell me. Whats wrong? Tanyaku padanya disela-sela lagu "You are The Universe"-nya BNH yang terdengar menyentak. Aku menoleh pada Jordy, asistenku, kecilin musiknya!

Daniella terdiam, dan tiba-tiba matanya mulai basah. Dia teringat akan ibu dan adik-adiknya.

Eits! Aku mendadak bingung, boleh ga nih anak nangis sekarang. Stop sayang, tahan, jangan nangis. It’ll ruin your make up. Aku menyentuh sikunya dengan lembut. Tarik nafas panjang.

Dia menceritakan kesusahannya soal keluarganya.

Sudah berapa kali kamu ikut pemotretan?

Ini yang pertama kali, mbak…

This is not good, pikirku lagi.

Apa yang membuatmu menjadi model at the firts place?

Daniella tertegun melihatku, dan menjawab, tambahan penghasilan, mbak. Wah, dia tak boleh menangis sekarang. Dadaku perih melihat air matanya jatuh.

Daniella, sayang. Saya tahu ini semua berat buat kamu sekeluarga, tapi, ingat kalau ini pekerjaan pertama kamu. Pernah dengar kata-kata professional nggak? Kamu sudah masuk ke dunia itu sekarang. Modal kamu kuat, but you have to fight as well. No work, no money. So collect yourself and move your ass, sambil kuketipkan satu mataku ke Daniella. Saya tidak mau pemotretan ini menjadi jelek hanya karena kamu tidak menunjukkan hasil yang baik. Coba pikirkan, hasil ini jelek, agencynya jelek, agency saja jelek. Dan saya tidak pernah memberikan hasil yang jelek. So… pikirkan sendiri.

Daniella tersenyum ketika mendengarku mengatakan ‘ass’, dan berkata, benar juga. Aku harus berjuang.

Mau tak mau aku harus tegas walaupun hatiku merasa teriris-iris mendengarkan ceritanya. Melihat air matanya meleleh.

Be somebody else in this room, honey. You are a model, for crying out loud! And what they suppose to do now, is being somebody else. Jadi, jangan takut menjadi sesuatu yang bukan dirimu untuk satu kali saja, demi kebaikan banyak orang. OK?

Daniella nampaknya mengerti apa yang kumaksud. Dia melihatku dan mengangguk mantap.

Make up! Betulkan Daniella. Rehat habis! Ayo semua ke posisi!

Aku berteriak-teriak mengkomando semua untuk memulai pekerjaan lagi. Aku tak tahu, apakah aku tepat meletakkan emosiku kali ini. Aku harus menjadi orang lain pada saat ini. Demi kebaikan semua orang. Juga.

Kuambil posisiku kembali ke tempat pemotretan yang terang benderang, meninggalkan sudut sofa yang gelap itu.

*terinspirasi Lagu Vogue oleh Madonna dan karakter T’Pol dalam Star Trek: Enterprise

*Pict reference: Star Trek: Enterprise

red-headed girl

Saturday, November 5th, 2005

Icards

you are so sexy… babe

Saturday, November 5th, 2005

302contest1a Pada suatu sore aku berpikir mengenai apa sih artinya ’sexy’. Akhirnya siang itu,  kubertanya kepada teman-teman via yahoo messanger tentang pendapat mereka pribadi tentang artinya ’sexy’ itu.

flower_diver and papa_alpha
papa-alpha, co, 36 thn. duda.

papa_alpha: Ow… ok, pakaian mini, diatas dengkul 15 cm, kalo terlalu atas malah terkesan jijay…, P***dara kelihatan 1/3 bagian…, Betis indah, Mulus gak panuan dan gak ada codet, Kalo saat ini aku suka yang putih, karena udah bosen dengan yang hitam
flower_diver: jadi hanya melulu soal fisik?
papa_alpha: Saat ini, ya… Kalo soal kelakuan, kayak iklan apa.. ya, yang joged nya sexy. Buat Laki, SEXY itu hanya fisik nya aja yang dilihat. Karena mereka pikir, dalam lainnya mereka lebih baik dari cewek

flower_diver and lemariku_berad
lemari_berad, co, 28 thn. single.

lemariku_berad: mata…buled, belo.., kadang seksi… bibir aja… bibir yg senyuman nya mirip manggis retak
flower_diver: opo iku manggis retaaakkk
flower_diver: jadi hanya melulu soal fisik?
lemariku_berad: pernah sih ada yg bilang perilaku nya bikin keliatan dia seksi.. pas nyanyi… pas nari.. pas nyapu.. tapi kayaknya rada bullshit deh. sexy itu mutlak fisik…

flower_diver and thecutest
thecutest, ce, 30 thn. single.

thecutest: sexy is…when a guy tries to communicate w/ baby.
thecutest: when he looks deep into my heart..
thecutest: when he listens to me attentively, and his finger playing with my hair
thecutest: ps. cwo sexy scr fisik nurut gw, yg badannya proporsional, ga berotot, kulit kecoklatan, baru shaving, masi bau sabun abis mandi..
thecutest: sexy mnrt gw ga fisik si
thecutest: ni kalo kt temen gue:
thecutest: cewe sexy itu
your_uncle: 1. tinggi min 170
your_uncle: 2. rambut panjang lewat bahu
your_uncle: 3. putih
your_uncle: 4. asian look
thecutest: 5. badan berisi (gak krempeng)
thecutest: masi dari uncle: thecutest: omongan nyambung ama humoris
raindrops: iya.. cowo maksudnya, jadi biasa.. even perempuan juga bisa berpikiran begitu
thecutest: your_uncle: miss perfect sih sophia latjuba or pingkan ratu bagi gw, kalo gw kadang ngrasa sexy kalo pake selop tali-tali high heels.., cewek sexy kalo ketawa lepasnya nggak nyeremin tapu juga lepas gitu
thecutest: makanya abis itu gw tanya, kalo sexy bukan diliat dari fisik, spt apa?
thecutest: baru dia jawb yg ttg ketawa lepas, sama humoris.

flower_diver and matrix
matrix, co, 32 thn. single.

matrix: what is sexy of girls in front of man’s eyes?
flower_diver: yes
matrix: face, body, br***t and legs
flower_diver: anything else?
matrix: for me those 4 items. for other men’s eyes maybe they like the girl’s attitude and voice.

flower_diver and i_am_old_enough
i_am_old_enough, co, 45 thn. married.

flower_diver: jadi sexy menurut mu apa, pak tua?
i_am_old_enough: sexy… lebih kearah komunikasi
flower_diver: ok, komunikasi yang kaya apa
i_am_old_enough: yang merangsang, patung misale, biso sexy, tapi kan meneng ae, dadi kalah karo wedok sederhana sing iso komunikasi, sing penting komunikasine
flower_diver: ok deh, ada yang fisik ga
i_am_old_enough: P***dara, pinggul yang pas komposisinya
cara bergerak (the way she moves), tapi yang paling peting yang bukan fisik. 40% fisik

flower_diver and housemusiq
housemusiq, ce, 30 thn. married.

housemusiq: mmm, kalo menurut aku ya? dua2nya sama tuh, sexy itu buat aku ya, smart, bisa bawa diri dalam pergaulan

flower_diver and bajaj
bajaj, co, 25 thn. single.

bajaj: bentuk tubuh lah, shape
flower_diver: ok
flower_diver: hanya fisik saja?
bajaj: yap

flower_diver and alien_in_NY
alien_in_NY, co, 35 thn. married.

alien_in_NY: ya segala sesuatu yg dilihat dr seseorang yg membuat aku jadi kepengen…..hehehehe
alien_in_NY: kalau liat ce dgn baju yg ketat sehingga bentuk br***tnya keliatan dgn jelas
alien_in_NY: kalau bukan fisik biasanya menyangkut intelegensia yg keliatan tapi tidak sengaja ditonjolkan oleh si ce
alien_in_NY: ini biasanya keliatan dr obrolan
flower_diver: ok
flower_diver: itu bisa kamu kategorikan sebagai sexy?
alien_in_NY: kombinasi intelegensia dgn manja…..

flower_diver and lut_jkt
lut_jkt, co, 35 thn. married.

lut_jkt: sexy itu smart, ya sexy itu kalau tuk fisik…. yang indah-2 & enak dilihat
flower_diver: seperti…?
lut_jkt: dari gaya juga bisa diartikan sexy
flower_diver: gaya apa
lut_jkt: misalnya , matanya bagus, hidung, lips, rambut, body dlsbnya, ngga enak kalau saya sebut satu-persatu, maksud saya, misalnya dari gaya bicara. wah banyak deh , jadi ngga perlu cantik tuk jadi sexy itu

flower_diver and air_sea_land
air_sea_land, ce, 35 thn. married.

air_sea_land: gue ngeliat co wok itu sexy kalooo ..
flower_diver: ce dan co
air_sea_land: berbadan tegap, berisi (bukan berotot loh ..), terus doi baru nimbul dari kolam renang, dengan rambut dan muka basah … =P~
flower_diver: ceileeee
flower_diver: kalo ce?
air_sea_land: kalo ce itu sexy ..badannya berisi (sekali lagi bukan berotot), ramah, luwes, dan down to earth. Kalo cantik itu berarti bonus ..
air_sea_land: klo cowok … dia setia, bertanggung jawab ..santun, ramah ..

flower_diver and ok_lho
ok_lho, ce, 32 thn. single.

ok_lho: guys who is smart with good sense of humor
flower_diver: bentuk fisik ada?
ok_lho: ohh yg body ok dgn dada bidang perut kotak2??
flower_diver: terserah kamu
ok_lho: ya itu lah
flower_diver: okdehhh
flower_diver: tengs berats tanteee
ok_lho: and have a good sense of dressing
flower_diver: ok
flower_diver: kalo cewe?
ok_lho: yg kayak beyonceee
ok_lho: nggak kurus tp sexy

Emang sih, setiap orang punya pendapat pribadi soal apa itu ’sexy’. Tapi kesimpulanku, pendapat pribadi mereka sangat tipikal tergantung dari jenis kelamin, umur, serta latar belakang.
Tapi, pikirku lagi… berarti aku ga masuk tipikal sexy dong, abis ga ada yang vote buat aku :))

*Semua nick ym hanyalah rekayasa, jika ada kesamaan nick ym, itu hanya kebetulan. Thx buat temen-temen yang udah mau kasih pendapat.

*pict reference Photografic.

Kota Tua Yerusalem

Saturday, November 5th, 2005

Oldcitymap1_5 Beruntung aku membawa pashmina hitam buluk kali ini. Kututup rambut merahku, dan menyelempangkan ujung pendeknya dipundakku. Beruntung cukup panjang pashmina ini sehingga bisa menutup kaos merah membara bertuliskan New York Yankees dengan baik. Beruntung lagi aku menggunakan slack hitam, dan bukan rok jeans mini yang kusilet-silet ujungnya. Kulirik meja sebelahku, yang duduk seorang tua berjanggut putih dengan panjang kira-kira tigapuluh sentimeter, menggunakan baju serba hitam dan topi panjang warna senada, yang mengobrol dengan seorang lelaki muda berkacamata bulat dengan potongan rambut yang aneh seperti batok mini di balik. Ditangannya masing-masing memegang mug keramik yang oversized bercatkan warna terakota. Teringatkanku akan mug beling babah cong berisi air putih yang menemaniku sepanjang hari depan komputerku. Kuperhatikan pakaian si tua yang terlihat di bawah mejanya, aneh sekali, celananya cingkrang, terlihat dari panjangnya kaos kaki putihnya yang kriting seakan takuna (tak kuat nanjak) yang nampak, kontras dengan warna celana, sepatu, dan lantainya yang serba gelap. Aku tersenyum geli sambil menunduk. Gemerincing terdengar, kulihat seorang wanita separuh baya menggunakan pakaian serba panjang berwarna-warni melintas di depanku. Hmm.. cantik. Didahinya bergelantung hiasan yang berwarna keemasan. Kedua tangannya penuh dengan asesori, tak ketinggalan telinganya dan lehernya. Kontras juga dengan si tua. Seperti sebuah foto hitam putih yang ditempel foto full color yang sering kulakukan sehari-hari. Pemandangan indah. Persis seperti kota ini, gunung yang kelabu, langit yang biru terang, hamparan rumput yang hijau, beserta dengan arsiteknya yang cenderung gelap namun terbuka.

Hari ini aku sudah menunggunya selama empat jam. Hari mulai sore, dan ruangan kedai itu mulai gelap. Tempat paling ujung kupilih - seperti biasa - agar bisa terlewat dari atensi orang. Kebiasaanku tidak menggunakan make up sangat membantu. Kupandang sekeliling ruangan, berusaha sebaik mungkin agar tidak melakukan kontak mata dengan penduduk sekitar. Tidak yakin aku yang mana pemuda itu, dan biarlah feelingku yang menemukannya. Kuingat sebelum berangkat aku mengirimkan pesan kepada pemuda itu, "Aku akan menunggumu di sebuah kedai kopi di bagian selatan Kota Tua, dekat Tembok Menangis". Mudah-mudahan dia mengerti. Lamat-lamat kudengar suara-suara menyelimutiku, seperti bahasa yang sering kudengar di gereja atau film horror yang melibatkan mengusiran roh, dan bahasa seperti adzan dan film-film arab yang kutonton sekali waktu.

Aku harus bertemu dengannya lagi! Walaupun aku mencarinya sampai keseluruh jagad raya! Kuingat pertemuan dengannya yang terakhir. Beberapa pertanyaan lanjutan belum sempat aku dapatkan jawabannya darinya sejak sore itu. Jazirahku yang karatan. Aku ingin melepaskan kepenatanku menanggung harga diri, kebanggan, nama baik, dan gengsiku sendiri. Kulihat sekelilingku sekarang. Semua orang berjalan dengan apa adanya. Begitu wajar, begitu natural. Kuharus minta bantuannya. Suatu tanda apapun darinya untuk membantu melepaskanku dari kegundahan diri sendiri.

Kulihat tikus-tikus berlarian di lantai, bagaikan menari di lantai batu ini. Aku harus tahan kegelian ini. Aku harus sabar. Kujingkatkan jari-jari kakiku dengan hati-hati sekali seiringan dengan lewatnya tikus di antara kakiku. Jadi seperti ini abad sembilanbelas. Dari jendelanya yang sebesar pintu apartemenku, aku bisa langsung membaui udaranya yang manis, dan rumputnya yang renyah. Beda dengan bau udara apartemenku yang banyak kupakai wewangian artifisial di pendingin ruangan.

Sudah kuhabiskan 2 mug besar Qahwa. Rasa kopinya yang rada-rada asin dan gurih, sangat berbeda dengan kopi yang kubuat dari coffee maker setiap pagi. Namun apa boleh buat, karena minuman lain sangat tidak jelas dalam kamusku. Bibir gatal dan lidah asam merasakan tendangan keinginan mendapatkan asupan asap nikotin. Harus berapa lama lagi? Waktuku kali ini tidak banyak. Kulirik jam tanganku dengan hati-hati. Jam tangan berstrap logam tidak mungkin berkilat di tempat gelap ini, hanya jarumnya yang perlu diwaspadai karena berpendar menyisakan cahaya matahari yang terserap sejak tadi pagi. Tigapuluh menit lagi, pikirku. Aku harus bertemu dengannya!

Tak lama kemudian, kulihat seorang pendeta memasuki kedai ini. Kutangkap wajahnya sewaktu dia menoleh kearahku. Seorang pemuda berwajah sangat bersih dan suci. Aku yakin bahwa dia adalah yang kutunggu. Deg-deg jantungku berdenyut, dan hampir mungkin meloncat keluar melalui kerongkorangan jika tidak segera kukendalikan diri. Mata kami beradu, dan pendeta muda itu berjalan ke arahku membawa Qahwa-nya. Dia duduk menyebelahku. Yakin bahwa dia adalah yang kutunggu.

shalom, akhirnya kita bertemu lagi. kamu masih kelihatan sama…, sapaku.

anda siapa?….sepertinya telah mengenalku, tanyanya.

Aku melirik rosario hitamnya yang melilit ditangannya. Kutersenyum dan berkata bahwa dia masih seperti yang aku kenal.

Sang pendeta muda terlihat antara bingung dan yakin bahwa kita pernah bertemu di suatu waktu.

bapa, waktuku bersamamu tak banyak. doakanku agar bisa keluar menjadi diriku sendiri. tidak takut, tidak ragu. tidak takut menunjukkan kepada dunia tentang siapa diriku sebenarnya. sama seperti mutiara hitammu yang membelit sebagai rosariomu, pintaku sambil memegang tangannya.

dengarkan suara hatimu sendiri. marilah, kita berdoa bersama, jawabnya. Teduh. Tenang.

bapa, bantulah aku untuk menyebarkan kedamaian dalam masaku sendiri. doakan aku, pintaku sambil melihat kepada matanya.

aku pasti akan membantumu, jawabnya tersenyum.

Kekhawatiranku hilang. Aku lega. Tersenyum.

peluk aku dalam doamu. aku pergi sekarang, pamitku padanya.

aku titipkan rosario ditanganmu itu sampai kita bertemu kembali, kata si pendeta muda. Tuhan bersamamu, anakku, bisiknya.

Terdengar ditelingaku suara alarm itu. Memekik-mekik bagai memecah telinga. Aku tahu bahwa mereka semua, termasuk pendeta muda yang duduk didekatku ini, tidak dapat mendengarnya, namun bunyinya bagaikan kilat di siang bolong.

Kutatap matanya. Kukecup pipinya. Aku berjalan keluar kedai itu dengan tenaga yang baru, perasaan yang tentram, dan semangat menyala. Kutembus kerumunan orang yang menyemut berdiri dihadapanku. Berjalan menyusuri anak tangga berbatu di sepanjang jalan bermaterialkan batu pula. Kulalui kereta kuda yang mangkal pas di bawah anak tangga itu, lengkap dengan sais, bau kuda dan ringkikannya.

sampai berjumpa lagi, bisikku dalam hati.

Dan kilatan cahaya itu menyongsongku kembali.

*Baca juga Mutiara Hitam di Park Bench Society.Tulisan ini adalah tulisan yang ditulis oleh dua orang, dari dua sudut pandang yang berbeda.

*Pict Reference http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/vie/Jerusalem2.html