lorong panjang berkerikil
kulalui jalan ini seperti biasanya.
jalan panjang keluar rumah menuju ke jalan raya.
jalan berkerikil, sehingga kadang harus sedikit berjingkat karena menggunakan sepatu tinggi.
kulihat beberapa orang berlalu lalang di lorong ini, orang-orang yang biasa melewati jalan ini.
kuanggukan kepalaku sewaktu dia menyapaku, dia yang selalu aku temui setiap hari ketika berjalan melalui lorong ini.
hei
apa khabar?, jawabku
mau kemana?, tanyanya
mau ke jalan 17, jawabku lagi
sendirian aja?
biasa, jawabku sambil tersenyum.
kulalui lorong itu setiap hari
malam itu sewaktu turun dari angkot, kulihat hal yang tidak biasa,
wah, mati lagi lampunya, kataku dalam hati.
kulepas sepatu hak tinggiku, dan menggantinya dengan sandal japit yang selalu kubawa dalam tas kerjaku.
seperti biasa, aku melalui jalan itu pulang ke rumah.
keesokan harinya, aku melalui jalan itu.
dengan menggunakan sepatu hak tinggi ini, aku berjalan dengan berjingkat-jangkat menghindari kerikil dan jalan berlubang yang ada.
jalanan becek sedikit karena hujan tadi malam.
aku berpapasan lagi dengannya.
hey, sapanya seperti biasa
aku tersenyum
aku mulai menyenangi keadaan ini, dimana dia selalu ada diwaktu yang sama denganku berjalan di lorong ini. sepertinya aku mulai terbiasa dengan keadaan yang dia selalu ada.
apa khabar?, jawabku - seperti biasa
baik. mau kemana hari ini?, tanyanya
ke jalan 78, jawabku
becek ya? hati-hati sepatunya, ingatnya sambil berlalu
iya, makasih, aku tersenyum.
malam ini aku turun dari angkot lagi.
kulihat nampaknya lampu belum dibetulkan.
hari-hari lalu aku biasanya berani, namun saat ini aku rada jengah.
kujalan ke arah lain, menghindari lorong panjang itu, menuju rumahku.
agak jauh memang, tapi jalannya lebih terang.
hey!, sapanya
aku mengangkat mukaku
hey juga! nggak seperti biasanya kita ketemu di jalan ini…
kenapa kamu lewat jalan ini?, tanyanya
gelap. aku males. jadi muter aja. kamu mau kemana?, aku ganti bertanya
lewat jalan itu, jawabnya
ok. sampai besok pagi ya?
aku tetap mengambil jalan lainnya.
begitu terus sampai seminggu.
sampai akhirnya kuberpapasan dengannya di jalan alternatif lainnya,
hey, sapanya.
hai juga, jawabku sambil ngos-ngosan.
memang jalan alternatif itu jalannya lebih jauh sampai di rumah
dengan sepatu berhak tinggi ini, dan lupa membawa sandal japitku, agak menyakitkan kaki.
kenapa masih lewat jalan ini?, tanyanya
lampu depan masih mati kan?, tanyaku balik
iya masih
kamu masih aja lewat sana?
masih. kenapa ga kita berjalan bersama?
mau nemenin?
why not?
iya, why not?
selama kita berjalan menuju arah yang sama, kenapa nggak berjalan bersama?
kenapa mesti mengambil jalan lain?
mungkinkah aku terlalu sering berjalan sendiri, sehingga tidak sadar bahwa ada teman yang mau diajak berbarengan berjalan menemaniku?
*pict reference : Louis Vuitton
September 13th, 2005 at 1:59 am
lui pitong-nya gak perlu ganti sleting khan…??
/mP
September 16th, 2005 at 12:32 am
uugghhh.. kenapa kesadaran selalu timbul setelah di “sadar” kan?
tapi gw setuju kalo there is somebody out there…
September 16th, 2005 at 4:03 am
oom mP,
sletingnya yang mengkilap ya… biar ga keliatan kalo palsu
oom Donny,
kadang-kadang memang kita butuh disadarkan oleh orang lain.
ego dan ketinggian hati terkadang memaksa kita untuk menganggap bahwa apa yang kita lakukan adalah yang paling benar.
iya ga sih?
hihihihi…
thx komennya bapak-bapak
appreciated