Archive for September, 2005

baju jazirahku yang karatan

Friday, September 16th, 2005

Joanaku duduk meminum kopi yang dibuat olehnya

enak sekali

lelah setelah seharian berperang melawan musuh yang tak habis-habisnya menyerang

aku duduk dengan sedikit kesulitan, karena baju jazirahku

aku melihat kepada awan, melihat kepada rumput

betapa indahnya alam ini

aku bertanya kepadanya dengan sedikit susah payah menggeser dudukku mendekatinya

kenapa alam seindah ini perlu diisi dengan peperangan ya?

karena tidak semua orang bisa menyelesaikan masalah hanya dengan berbicara baik-baik, katanya sambil menggaruk punggungnya dengan enak

baju jazirahnya digeletakkan begitu saja didekatnya

betapa inginnya aku melepaskan baju perangku ini

bertahun-tahun aku menggunakannya, demi menjaga diriku terhadap serangan lawan

sehingga tampak berkarat pada tempat-tempat yang seharusnya dipakai untuk membuka dan memasangnya

mengapa baju perangmu tidak pernah kamu lepas? nggak cape?, tanyanya untuk kesekian kali, membuyarkan lamunanku

aku harus memakai ini setiap kali, aku ngga PD kalo ga pake, jawabku ringan sambil meminum kopi

nggak akan berdarah kan badan kamu kalau kamu lepas sebentar?, tanyanya

aku terdiam, tidak siap mendapatkan pertanyaan itu

aku takut, kalau musuh datang, aku tidak sempat menggunakannya lagi, dan apabila mereka menyerangku dengan pedang dan panahnya, aku akan mati cepat sekali, jawabku sambil mengerutkan dahi, tanda tidak yakin akan jawaban sendiri

aku tak pernah berniat melepaskannya

tapi kamu akan aman bersamaku, lepaslah baju perangmu itu, jawabnya sambil tersenyum

aku menggeleng kuat, aku takut tak akan sempat memasangnya jika musuh datang!

dia tertegun

aku berkata pada diri sendiri, aku akan melepaskannya jika aku siap, dan jangan bosan menjaga dan mengingatkanku.

reference pict: http://www.whoosh.org/issue53/bonacci2.html#joan

lorong panjang berkerikil

Monday, September 12th, 2005

Print_branding_campaign_1kulalui jalan ini seperti biasanya.
jalan panjang keluar rumah menuju ke jalan raya.
jalan berkerikil, sehingga kadang harus sedikit berjingkat karena menggunakan sepatu tinggi.
kulihat beberapa orang berlalu lalang di lorong ini, orang-orang yang biasa melewati jalan ini.

kuanggukan kepalaku sewaktu dia menyapaku, dia yang selalu aku temui setiap hari ketika berjalan melalui lorong ini.

hei
apa khabar?, jawabku
mau kemana?, tanyanya
mau ke jalan 17, jawabku lagi
sendirian aja?
biasa, jawabku sambil tersenyum.

kulalui lorong itu setiap hari

malam itu sewaktu turun dari angkot, kulihat hal yang tidak biasa,
wah, mati lagi lampunya, kataku dalam hati.
kulepas sepatu hak tinggiku, dan menggantinya dengan sandal japit yang selalu kubawa dalam tas kerjaku.

seperti biasa, aku melalui jalan itu pulang ke rumah.

keesokan harinya, aku melalui jalan itu.
dengan menggunakan sepatu hak tinggi ini, aku berjalan dengan berjingkat-jangkat menghindari kerikil dan jalan berlubang yang ada.
jalanan becek sedikit karena hujan tadi malam.

aku berpapasan lagi dengannya.

hey, sapanya seperti biasa
aku tersenyum
aku mulai menyenangi keadaan ini, dimana dia selalu ada diwaktu yang sama denganku berjalan di lorong ini. sepertinya aku mulai terbiasa dengan keadaan yang dia selalu ada.
apa khabar?, jawabku - seperti biasa
baik. mau kemana hari ini?, tanyanya
ke jalan 78, jawabku
becek ya? hati-hati sepatunya, ingatnya sambil berlalu
iya, makasih, aku tersenyum.

malam ini aku turun dari angkot lagi.
kulihat nampaknya lampu belum dibetulkan.
hari-hari lalu aku biasanya berani, namun saat ini aku rada jengah.
kujalan ke arah lain, menghindari lorong panjang itu, menuju rumahku.
agak jauh memang, tapi jalannya lebih terang.

hey!, sapanya
aku mengangkat mukaku
hey juga! nggak seperti biasanya kita ketemu di jalan ini…
kenapa kamu lewat jalan ini?, tanyanya
gelap. aku males. jadi muter aja. kamu mau kemana?, aku ganti bertanya
lewat jalan itu, jawabnya
ok. sampai besok pagi ya?
aku tetap mengambil jalan lainnya.

begitu terus sampai seminggu.
sampai akhirnya kuberpapasan dengannya di jalan alternatif lainnya,

hey, sapanya.
hai juga, jawabku sambil ngos-ngosan.
memang jalan alternatif itu jalannya lebih jauh sampai di rumah
dengan sepatu berhak tinggi ini, dan lupa membawa sandal japitku, agak menyakitkan kaki.
kenapa masih lewat jalan ini?, tanyanya
lampu depan masih mati kan?, tanyaku balik
iya masih
kamu masih aja lewat sana?
masih. kenapa ga kita berjalan bersama?
mau nemenin?
why not?

iya, why not?
selama kita berjalan menuju arah yang sama, kenapa nggak berjalan bersama?
kenapa mesti mengambil jalan lain?
mungkinkah aku terlalu sering berjalan sendiri, sehingga tidak sadar bahwa ada teman yang mau diajak berbarengan berjalan menemaniku?

*pict reference : Louis Vuitton

pendekar bebek bertattoo (#5) : perginya PJ

Friday, September 9th, 2005

Images_1PJ?
ya aku tahu siapa kamu… aku ingat siapa kamu.

tampak muka SB tersembul di antara pengawal pribadinya.

PJ lega. Dia pikir SB telah melupakannya selama ini.
PJ mendekat dengan tersenyum, berharap bisa memeluk sahabatnya itu.
PJ sangat rindu dengannya. banyak pertanyaan yang akan ditanyakan kepadanya. terutama soal arti tentang lemon cheesecake.
PJ berusaha menerobos dua laki-laki berpakaian serba hitam yang menutupi SB.

sewaktu tangan PJ hendak memeluk SB, tiba-tiba SB berdiri dan berteriak

bagaimana saya bisa lupa?
kamu perempuan yang terlalu banyak aturan!
kamu perempuan yang super super sensitif!

PJ tertegun mendengar SB
PJ tidak bisa berkata apa-apa. tangannya bergetar. bibirnya bergetar.

baru kali ini ada orang yang berani mengatakan kata-kata itu kepada saya!, suara PJ bergetar.
antara sedih dan marah
tidak siap mendapatkan serangan tiba-tiba dari SB

kenapa?
kenapa tiba-tiba kamu yang merasa menjadi korbannya saat ini?
selama ini saya menerima kamu seperti kamu apa adanya
tapi kali ini saya tidak bisa menerimanya lagi
memang kamu terlalu banyak aturan!

SB melanjutkan

PJ tertegun.
selama ini dia ternyata menyembunyikan perasaan tak suka itu terhadap saya
PJ sangat sedih mendapatkan pernyataan jujur SB barusan.

kenapa kamu baru bilang sekarang?
kenapa dulu seperti baik-baik saja?
kenapa kamu harus berteriak seperti itu SB?

jawab SB
jika memang kamu nggak suka cara saya bicara, ya beginilah saya
it will happen again!

terasa suatu yang teriris-iris di dada PJ.
hatinya

mengapa kamu melukai saya SB? apa salah saya? mengapa kamu ngga pernah bilang itu dari dulu?
berondong PJ

kamu sakit? im sorry! kamu memang perempuan yang super-super sensitif!
tapi saya nggak bisa merubah cara saya bicara!

saya nggak pernah menyuruh kamu untuk merubah apa-apa SB

tapi sepertinya kamu menyuruh saya untuk melakukan itu!

SB!
berentilah menyalahkan orang!
saya hanya datang padamu sekarang sebagai teman…

hati PJ hancur berantakan
dia tahu mengapa dia bisa sakit seperti itu, lebih sakit rasanya dibandingkan terkena seribu tusukan panah musuh
karena tanpa PJ sadari, dia telah membuka hatinya
untuk SB

PJ pergi meninggalkan SB begitu saja dengan kepala tertunduk lesu.
dia terbang, entah kemana, dengan menutup hatinya lagi.

pendekar bebek bertattoo (#4) : lemon cheesecake

Monday, September 5th, 2005

G11_1setelah bertahun-tahun kedamaian di desa damai terjaga berkat kedua pendekar, keadaan di pu’un damai menjadi ramai karena banyaknya burung-burung yang bertengger di sana. semua senang, semua bahagia. semua damai.

yang berbeda hanya satu, SB.

SB nampak tidak bahagia seperti biasanya setelah berbulan-bulan. PJ mengetahui hal ini, namun tak kuasa untuk bertanya. SB mendengar dari stasiun radio ‘forcast of the world’ bahwa keadaan pujangga di abad ke-22 sangat baik, tidak seperti di abad ke-15, saat ini. SB hanya bisa curhat kepada bebek-bebeknya saja.

SB, kenapa ga diterusin tulisannya?

gak aja

kenapa?

bloon PJ ah, nanya terus.

akhirnya PJ mendapatkan berita keinginan SB untuk ke abad 22, setelah sang seribu bebek tidak kuasa untuk mendengar kepedihan SB. PJ kemudian memutuskan untuk mengoperasikan transporternya yang selama bertahun-tahun ini dia sembunyikan dibawah tumpukan guguran daun pu’un damai. demi SB, katanya pada diri sendiri.

SB, pakailah transporter ini, pergilah ke abad 22, aku rela. hanya berjanjilah bahwa kamu pergi tidak mengecewakan desa damai yang kamu tinggali.

SB memandang mata PJ dengan sendu, akhirnya berbinar.

makasih PJ

dan berangkatlah SB ke abad ke 22.

PJ bisa melihat kegiatan SB di abad 22. dengan kecanggihan teknologi yang dimilikinya, dia bisa melihat SB tinggal menyendiri di atas bukit, yang menghadap ke laut. hidup tersohor sebagai penulis yang buku-bukunya sangat laris.

PJ membaca tulisan SB yang tertinggal:

… I studied the menu and saw lemon cheesecake again which was slightly more expensive than the plain cheesecake, obviously. I was always one that went for the old fashioned way when it came to food and drinks so I started to automatically think of ordering the plain one. The way I run my life was complicated enough and I could use a few basic simple way of living like a plain bagel instead of a cinnamon taste one or a cold beer instead of those colorful designer cocktails…

sigh… lemon cheescake katanya. whats so special about lemon cheesecakes? bingung soal kalimat itu, namun sedih hatinya tidak ada SB untuk bertanya.

bertahun-tahun berlalu dengan mulusnya. PJ menjaga ketentraman desa tanpa SB disampingnya. selain kebahagiaan yang dipunyai PJ, ternyata ada sesuatu yang kurang. SB.

i miss him so much.

akhirnya, PJ menitipkan kedamaian desa pada pendekar seberang, dan menyusul SB.

sesampainya di abad ke-22, PJ menemukan suatu toko buku yang sedang launching buku SB.

LEMON CHEESECAKE

wah, ternyata memang benar. SB menjadi penulis tersohor. dalam hati PJ merasakan kebahagian untuk SB. PJ bahagia untuk SB. kerinduannya bak bendungan bocor, dia berlari menghampiri SB yang sedang sibuk menandatangani buku untuk para fans.

SB! apakhabar? hambur PJ mendekati SB sambil berlari.

namun tiba-tiba…

dua orang berpakaian jas hitam dengan kacamata menutupi jalannya, seperti melindungi sang penulis.

kenapa ini?, tanya PJ

siapa kamu?, kata SB

SB! jangan becanda! ini aku. PJ.

PJ?

*bersambung*

pendekar bebek bertattoo (#3) : searching for our sofa

Monday, September 5th, 2005

Metrosofat_3di pagi yang indah itu, PJ sedang bertengger di pu’un damai sambil memakan lemon cheesecake-nya. bir di tangan kiri, dan tongkat besi disebelah kanan, dipegang2nya selain menyuapkan kuwe kegemarannya itu.

"PJ… kamu pain?"

PJ melengok ke bawah. dilihatnya SB sedang mendongak ke atas mencarinya.

"lagi sarapan", jawabnya.

SB terbang ke dahan pu’un tempat PJ bertengger, dan duduk menemaninya.

SB dan PJ duduk berganti posisi berkali-kali. lalu kata SB, lebih baik kita cari sofa buat kita… biar enak duduknya. PJ mengangguk, dan memasang tanda "out of office: searching for our sofa" di bawah pu’un damai tempat PJ biasa berjualan jamu.

PJ dan SB beterbangan kesana kemari mencari sofa yang mereka maui berdua. beberapa toko sofa didatangi tetapi masih belum pas juga. terlalu panjang, terlalu pendek, terlalu ungu, terlalu empuk, terlalu dingin…

diperjalanan melanjutkan mencari sofa, SB berkata kepada PJ,

"laper ga?"

PJ mengangguk, ngebir yuk?

SB terbiasa dengan jawaban PJ yang tidak pernah nyambung jika ditanya. mereka kemudian menemukan cafe yang cukup cozy. SB yang old fashioned memesan cheese cake seperti biasa, dan PJ bir.

PJ kemudian membuka gadgetnya dan mulai tut tit tut tit memencet tombol huruf2-nya.

tit tit tit tit…

henpon SB berbunyi,

"ini sofanya enak deh, gimana kalo sofa ini aja kita bawa pegi?" sender PJ.

SB melihat pada PJ, "iya, enak juga ya?" katanya pada PJ. "tapi masa iya kita bawa begitu saja? you gendeng kaya galundeng!", kata SB pada PJ.

could this be our sofa?, PJ masih melirik pada sofa itu. sofa yang tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, sedang-sedang saja mak, seperti lagu itu. tidak terlalu keras, pun tidak terlalu empuk. pas pokoknya. tidak terlalu hitam, dan tidak terlalu putih. tempatnya di pojokan, jauh dari keramaian orang, sehingga apa yang dilakukan bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura lagi.

gendeng kaya galundengbloon PJ ah! cium SB di pipi PJ.

PJ melolot. kaget.

SB!!!!!!!!!

dan SB terbang mendahuluinya sambil tertawa.

bagaimana dengan ‘kita’?, pikir PJ sambil terbang perlahan menembus awan putih. PJ sedih.

*bersambung*

*reference pict : http://www.shop.somniafurniture.com/sleep.html