Archive for August, 2005

pendekar bebek bertattoo (#2) : kembalinya PJ

Sunday, August 28th, 2005

Antonio_lopez1_1 … tiba tiba….

CIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAATTTT !!!!

sang penjual jamu melihat ke atas, dan menemukan seorang yang terbang turun dari ranting pu’un damai. dengan samurainya yang panjang, dengan gaya terbang yang membuat kostum putih sang pendekar melambai-lambai tertiup angin.

rombongan perampok kaget mendapatkan sang pendekar yang sudah landing di depan mereka. serta merta mereka semua memberhentikan kuda-kuda mereka.

hey kalian, ada apa datang ke desa damai?, tanya sang pendekar.

minggir kamu!

tidak! jangan ganggu ketenangan desa damai!

dan bertempurlah mereka…

sang penjual jamu melihat kejadian itu dengan pandangan ala garfield. dia merasakan sesuatu yang berbeda. benci dengan peperangan, namun kagum dengan kekerasan sang pendekar menjaga perdamaian, walaupun dengan cara berperang.

tiba-tiba sang penjual jamu melihat bahwa sang pendekar memerlukan pertolongan. nampak ragu-ragu sang penjual jamu. iya… tidak… iya… tidak.. dan akhirnya…

sebuah lampu yang sangat terang muncul dari sang penjual jamu. bebek-bebek itu kaget lagi. ada yang sempat pakai cengdem, ada yang tidak.

sang penjual jamu berubah!

PJ!

PJ kemudian beraksi membantu sang pendekar. sang pendekar melihat sebentar kepada PJ, ada kegembiraan dan kelegaan tak tertahankan dimatanya. diberinya tanda anggukan kepada PJ, dan dibalasnya dengan anggukan yang sama. mereka saling menempelkan punggung. scene beralih, sang pendekar mengangkat samurainya, dan PJ dengan tongkat besinya.

bak buk bak buk!

dan singkat cerita, mereka berdua berhasil menghalau kawanan perampok.

PJ dan sang pendekar melihat para perampok menjauhi mereka.

mereka kemudian saling melihat. tersenyum, dan saling bersalaman.

saya PJ, kata si wanita.

saya SB, kata si pria.

PJ? penjual jamu? pikir SB.

SB? sang bercaping? pikir PJ. bukan, samurai bebek, kata SB, membaca pikiran PJ.

saya jatuh cinta dengan kehidupan damai ini, kata PJ pada SB ketika ditanya mengapa tidak pernah kembali lagi. dan aku menyaru menjadi sang penjual jamu.

dan kamu sendiri, mengapa selama ini saya ngga tahu kamu adalah sang pahlawan desa ini? saya hanya tahu kamu seorang petani bebek, sang bercaping.

saya memang sang pendekar bertattoo, yang banyak orang bicarakan itu, namun saya lelah dengan kehidupan itu. i prefer my soulfull life, dengan jadi petani bebek.

jadi, bagaimana dengan ‘kita’?, tanya si wanita.

*bersambung*

pendekar bebek bertattoo

Sunday, August 28th, 2005

Images kwek kwek kwek…

beratus-ratus bebek berjalan beriringan dengan rapi di pematang sawah. seorang bercaping berdiri tepat di belakang mereka, menjaga agar mereka tetap dalam jalurnya.

dalam keadaan pedesaan yang tenang dengan semilir anginnya yang dingin, tiba-tiba muncul suatu sinar dengan terang yang amat sangat. para bebek terkesima, tak tertinggal sang bercaping. untung aku menggunakan cengdemku ini, kata sang bercaping dalam hati.

makin lama terang tersebut mulai mereda, dan sebagai gantinya terlihat seorang perempuan menggunakan kostum selayaknya star trek yang serba ketat. si perempuan melepas cengdemnya dan menyapa sang bercaping, selamat sore, saya PJ, saya datang dengan damai.

sang bercaping melihat PJ dengan kesusahan karena terangnya hilang, segera ia melepas cengdemnya. selamat sore juga, saya sang petani bekbek… saya terima damai anda.

setelah bertahun-tahun lamanya, PJ dan sang bercaping bertemu tak sengaja seperti pada awalnya - sianr terang, tercengang - berteman dekat, tanpa mengusik kehidupan pribadi.

namun sore itu, di bawah pu’un damai, setelah sekian tahun PJ tidak nampak lagi, sang bercaping mulai merasakan sesuatu yang sudah lama dia tidak rasakan selama berpuluh-puluh tahun lamanya, dia akhirnya mencurahkan perasaannya pada sang penjual jamu yang biasanya mangkal di bawah pu’un itu, katanya, aku merindukannya. sang penjual jamu merasa tertegun dengan curhatan sang bercaping, mengapa?, tanyanya. dia membuatku merasa seperti ini, jawab sang bercaping sambil menerawang jauh.

berjam-jam lamanya setelah itu, serombongan perampok berkuda mendekati pu’un damai itu. pu’un itu adalah gerbang masuk desa damai. sebuah desa yang dinamai sama dengan pu’unnya.

berbagai unggas yang hinggap di pu’un itu beterbangan mendengar riuh derap kaki kuda yang diikuti oleh debu yang berterbangan. sang bercaping yang selalu menghadap ke bawah kemudian mengintip kejadian itu dari balik capingnya.

tiba-tiba scene berubah dari penjual jamu yang ketakutan, menjadi ke scene bebek-bebek yang bengong karena sang bercaping tidak ada di tempatnya lagi. sang penjual jamu menjadi semakin takut. dipanggilnya sang bercaping berkali-kali… SB… SB… kamu di mana? saya takut…

gerombolan kuda semakin mendekat… tinggal beberapa puluh meter lagi. debu semakin jelas terlihat. ringkikan kuda dan teriakan para perampok jelas terdengar. sang penjual jamu merapatkan tubuhnya di pu’un damai. beratus-ratus bebek itu pun kocar-kacir mencari selamat di balik pu’un damai.

tiba-tiba… CIYYYYYYYYYYYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAATTT !!!

*bersambung*